Sabtu, 31 Desember 2016











Selasa, 01 November 2016

"Awal"

Wew... Lama gak menjamah blog ini... Malas plus malas.. hihi... Mmm mau cerita apa yaaaaa.... Hihi... Cerita bahwa daku tak sendiri lagi yak... Wew, siapa sangka yak.. daku sendiri korban juga tak menyangka πŸ˜‚

Awalnya gimana yak?hihi... Bingung juga mulai darimana hehoooooo

Awalnya sih puasa dan semua baik-baik saja....

Dan pas akhir Ramadhan tanggalnya sih kayae 3 Juli 2016, H-3 kayae dari lebaran, daku baru balik dari rantau karena memang baru cuti bersama. Tetibanya eh si dia mendadak mau datang ke rumah dengan ortunya... 

Hwaaaaaaaaaa syookkk... Mau ngapain, mau bikin kerusuhan? Ini belum ada apa-apa, belum ada restu, belum ada speak-speak keluarga semua...

Owhmaigad....

Jreeeengggg dan yak begitulah begitulah pas hari H di tanggal ketemu dan kenal keluarga kecil kita.... Aaaakkkkkkk  beginilah, keluarga ala-ala militer kita.... Semoga tak meninggalkan luka kata... Aamiin

Eh eh kan cuma ajang kenal ya, kenapa jadi ajang minta saya, kenapa

Rabu, 08 Juni 2016

"Angka 8"

Selalu bersyukur kalau masuk bulan 6 dan selalu suka dengan angka 8

Terimakasih sudah melahirkan aku di bulan ini, Ibu
Kasihku tak akan pernah cukup membalas semua kasihmu, dan dengan bertaruh nyawa maka aku ada di dunia ini, semoga kelak aku bisa membalas semua, memberi kebahagiaan kecil dan gak nyusahin lagi... Aamiin

Dari pindut dan mar-Tia, mamacih gais lop u both

Dari mb sa, mb ke, ama riska manis

Dari rumah caraka... Lop u all😘

Bikin haruuuu kalimatnya....

Minggu, 15 Mei 2016

>> Bapak Wali



“Kamu hamil?”
Rima menunduk, menangis, dia merasa sangat ketakutan, baru kali itu dia merasa sangat takut setelah beberapa waktu lalu dia juga mengalami ketakutan karena telah tertanam janin di rahimnya.
“Siapa yang melakukan?”
Rima diam saja.
“Aku cari Bapak karena ini, aku mau Bapak yang menikahkan Rima dengan lelaki itu, bukan wali hakim,”
“Memangnya lelaki bodoh itu mau bertanggungjawab?”
“Mau, dia baik,”
“Baik kok menghamili anak orang? Baik itu rajin ke masjid bukan menghamili anak orang,”
“Bapak juga tidak baik, tidak pernah ke masjid,”
“Kamu malu? Kalau malu ngapain cari Bapakmu ini kesini?”
“Rima nggak malu, Rima mau Bapak jadi wali Rima,”
“Ibumu yang jalang itu kemana?”
“Tidak tahu,”
“Jadi Ibumu tidak tahu kalau anaknya hamil?”
Rima menggeleng, matanya berani menatap.
Bapakmu ini Cuma kondektur bus mini, gelantungan tiap hari campur debu Jakarta,”
“Rima tidak malu,”
“Kapan?” Bapak setengah baya itu mendongakkan kepala putrinya, “secepatnya, keburu perutmu besar kemana-mana,”
“Rima siap kapan saja, Rima juga malu kalau ketahuan,”
“Lelaki itu harus lulus sekolah, kamu juga, biar nggak sama kayak orangtuanya, punya kerjaan jelas,”
“Bapak nggak kangen sama Ibu?”
“Apa Ibumu kangen sama Bapakmu ini?”
“Ibu kemana?”
“Ibumu itu udah jadi perempuan nggak bener,”
“Bapak nggak boleh bilang gitu,”
Memandang miris ke putrinya.
“Sudah berapa bulan perutmu itu? Kalian tidak berusaha membunuhnya?”
Rima menggeleng.
“Rima mau anak ini, dosa kalau Rima bunuh bayi ini,”
“Dosa? Itu tahu dosa, pas bikin apa ingat dosa?”
Rima diam.
“Jangan jadi perempuan nggak bener, Bapakmu nggak pernah ngajari itu, mungkin Ibumu yang ngajari,”
“Bapak pergi waktu itu setelah Bapak pukul Ibu dan dua minggu setelahnya Ibu pergi, nenek sakit dan kakek yang cari uang, sekarang kakek ngayuh becak dan nenek masih jadi buruh cuci,”
“Uang yang bapak kirim?”
“Ada, buat bayar sekolah Rima dan buku Rima,”
“Baguslah, nggak dipake Ibumu, pelacur di depan suaminya, Bapakmu ini nggak ngejelekin Ibumu, tapi kenyataan, ditinggal kerja suami itu jaga diri dan kehormatan bukan tidur dengan lelaki lain. Bapakmu ini walau tidak sekolah tinggi tapi tahu aturan, Bapak kasih tahu kamu biar kamu bener,”
“Rima sayang sama Bapak, Rima mau Bapak jadi wali Rima, maaf Rima bikin malu Bapak, tapi Rima nggak pernah malu punya Bapak,”
Bapak dan anak itu saling berpelukan.

Rabu, 11 Mei 2016

>> Surga Yang Lain



“Ceraikan saya mas,”
“Tidak, aku masih sangat mencintaimu,”
“Apa kamu mampu? Apa itu bentuk cintamu?”
“In shaa Allah, asal kamu ikhlas,”
“Ikhlasku mungkin di mulut saja, wanita mana yang mampu berbagi cinta dan dunianya?”
“Maafkan aku, sayang,”
“Aku yang minta maaf,”
“Tapi aku mohonkan agar kamu menerimanya menjadi bagian dari dunia kita,”
“Aku bisa apa? Aku tak pernah meminta surga padamu, maka jangan beri aku neraka di dunia ini,”
“Astaghfirullah, aku tak pernah ingin neraka untukmu, aku justru inginkan kita bersama di surgaNya kelak,”
Qautsar menangis di pangkuan istrinya, Dewi pun tak kalah hebat menangis, mencoba mengikhlaskan suaminya yang ingin berbagi ranjang.
“Ini Delia,”
Qautsar benar-benar membawa perempuan lain yang ingin dia nikahi.
“Mas,” Dewi tersenyum getir.
“Dewi,”
“De - li – a,”
Dewi sedikit terkejut karena melihat Delia gagap berbicara dan dia memperagakan beberapa isyarat. Delia seorang tuna rungu, wajahnya cantik dan santun.
“Allahu Akbar, Cobaan apa lagi ini Rabbku”
Dewi membatin dan menangis dalam hati.
“Cinta apa yang kamu punya untuknya, mas?”
“Cinta yang utuh sama seperti yang kupunya untukmu,”
“Kamu menemukan bidadari surgamu, untuk apa aku ada?”
“Subhannallah, bidadariku kamu, dia malaikat, bolehkah aku punya keduanya di sisiku?”
Dewi memeluk suaminya yang duduk di bawahnya. Air matanya berurai.
“Mungkin ini surga yang lain,”
“Kamu yang membuatnya menjadi surga atau neraka,”
“Pergilah, bawa malaikatmu itu, ikhlasku bukan karena semua kekurangannya tetapi karena semua kurangku ada pada lebihnya,”
“Surga yang lain itu nyata,”
“Allahu Akbar,” Dewi menangis semakin erat peluknya.



#30HariBerCeritaPinta
CPPS ini ceritanya alias cerita pendek, pendek sekali menuju 8 Juni 2016, semua bercerita pinta atau ingin ^_^

Selasa, 10 Mei 2016

>> Astaghfirullahal Adzim



 

"Apa aku terlambat atas rasaku ini?"
"Rasa seperti apa yang kamu punya?"
 "Rasa yang lebih dari sekedar sahabat, aku yang tak hanya ingin mendengar semua keluh kisahmu, paper kuliah, kuiz dadakan,"
 "Maaf, Kee,"
 Nada menunduk sambil meminta maaf kepada sahabatnya Keenan. Sejak SMA mereka selalu bersama.
"Istighfar, Kee,"
 Ustadz yang biasa menjadi imam masjid komplek perumahan Keenan mencecar. Keenan harus bertobat.
"Saya jatuh cinta pada dia, Pak,"
 "Maka nikahi atau tinggalkan, kamu harus meninggalkannya karena dia sudah akan menjadi milik orang lain,"
"Saya bisa gila memikirkan dia akan menikah dengan orang lain, saya yakin dia pun punya rasa yang sama,"
"Jodoh itu sudah ada yang mengatur, maka dengan kegilaanmu ini beristighfarlah, perbanyak istighfar maka Allah akan melapangkan setiap kesusahanmu, memberi jalan keluar tiap masalahmu dan kamu akan mendapat rizki dari pintu yang tak terduga,"
"Saya menyesal baru bilang sekarang,"
"Jika dulu kamu katakan mungkin akan banyak jalan dosa terbuka, atau memang akan ada jalan halal terbuka. Kini kamu katakan pun pintu dosa dan halalmu tetap terbuka."
"Astaghfirullahal adziim,"
Keenan menunduk dalam, air matanya jatuh di sarungnya.
Maka dia pulang dan mulutnya tak berhenti merapal mantra ajaran ustadznya. Dia lebih dari sekedar galau.
"Berjanjilah untuk bahagia,"
"Janji, in shaa Allah," Keenan merapal janji di depan Nada.
"Aku senang kamu ikhlaskan aku,"
"Belum sepenuh hati, tapi kamu juga harus janji, janji untuk bahagia bersama pilihan itu," Keenan menunduk lemah.
"In shaa Allah,"
Keenan dan Nada berusaha ikhlas.
"Astaghfirullahal adziim,"
Keenan selalu istighfar dan sholat malam, Al Quran selalu dia baca karena kegundahan hatinya. Dia menangis tiap mengingat Nada.
Dalam suasana pernikahan. Sang pengantin wanita tak nampak begitu pula sang pengantin lelaki. Sudah di telpon beberapa kali tapi tidak ada jawaban.
“Nada mulai takut,”
Layar HP-nya tak hentinya memanggil nomor telpon calon suaminya. Ibunya ikut gusar.
“Ya Allah, kucinta Kau lebih dari apapun, cintakanlah pada makhluk yang mencintaiMu, Engkau Maha membolak-balik hati,”
“Sudah ada kabar, katanya rombongan lelaki kecelakaan.”
“Innalillahi wa innaillaihi rojiun,” serempak seluruh ruang menggema menyebut kalimat sakral itu.
Airmata Nada tak keluar sama sekali, hanya saja dadanya berdegup kencang.
“Pernikahannya?”
Nada tak bergeming di kamarnya.
“Abi, di luar sana ada lelaki yang mencintaiku, dia telah berjihad menuju kemari dan kami memang tidak berjodoh lama, tetapi ada lelaki di luar sana, dia sahabat Nada sejak lama, dia lelaki yang begitu ikhlas ketika cinta yang dia damba menjadi milik orang lain dan dia mendoakan segala kebaikan, bolehkah?”
Nada belum selesai bicara, “Siapa? Kenapa tak mau bertemu Abi sejak lama?”
“Keenan,”
Nada sesenggukan melafaz nama Keenan di depan Abi.
“Dia suka denganmu?”
“Cintanya lebih besar kepada Allah,”
“Dia bisa melindungimu?”
“Dia membuktikannya sejak kami SMA hingga kini, tak sehelai rambutku dia sentuh,”
“Tapi dia membuatmu menangis dengan tidak datang ke hadapan Abi,”
“Dia membuat Nada menangis karena dia belum hafal Ar Rahman janji maharnya kepada Nada, tapi Abi sudah menerima Mas Ilham terlebih dulu sebagai calon suami Nada,”
“Lelaki macam apa itu?”
“Bolehkah Nada menerimanya?”
“Abi terima tapi harus hari juga,”
Keenan digiring menuju sebuah bilik dan berbicara dengan Abi Nada.
“Astaghfirullah, inikah satu rizki dari pintu tak terduga? Pak Hasan, sebelumnya saya berduka cita dan untuk permintaan ini, saya  bisa apa? Saya fakir ilmu dan harta, apa yang bisa saya jadikan mahar untuk Nada,”
“Hafalan Ar Rahman, kamu sudah hafal?”
“In shaa Allah,”
Inilah kekuatan doa, istighfar Keenan memang mendatangkan rizki dari pintu tak terduga. Bukankah jodoh merupakan rizki juga.




#30HariBerCeritaPinta
CPPS ini ceritanya alias cerita pendek, pendek sekali menuju 8 Juni 2016, semua bercerita pinta atau ingin ^_^


    

Senin, 09 Mei 2016

>> Keajaiban Dunia the great Borobudur


>> Museum Pers Indonesia


>> Jemariku di sela Jemarimu


Senin, 29 Februari 2016

>> 1 dari 1000 Pasukan Bumi itu adalah Ayahku

Ayah,
Banyak kalimat, puisi, sajak, novel, atau bahkan curahan hati, dan surat-surat di #30harimenulisuratcinta ini tercipta untuk Ibu. Kenapa sosok Ayah kadang terlupakan atau dia di nomor sekiankan? padahal jasanya kepada keluarganya juga sangatlah besar.

Ayah,
Yang aku kenal dari sosokmu adalah kamu pejuang, pejuang bagi Ibu, aku dan adik. Dari pagi hingga petang kamu selalu memikul senjata, aku ingat ketika ada alarm apel dadakan di batalyon. Semua pasukan wajib hadir, berlarian, lengkap atau tidak seragamnya itu urusan nanti. yang terpenting harus apel. Jaman masih muram, tak seberapalah gajimu untuk membeli kendaraan, maka kau relakan berjalan bersama kawan lain. Tahun berikutnya bolehlah hasil penyisihan gaji kamu relakan buat membeli sepeda besar dan sepeda kecilku.

Ayah,
Kau melihatku riang dengan sepeda baruku, dan kamu pula ke batalyon tak lagi dengan berjalan kaki. Kisah mana pula yang tak romantis ketika kamu membelikan kami TV baru.

Ayah,
Kisah mana yang tak lebih romantis, ketika kau bertugas di pedalaman daerah konflik. Tak ada telepon dan yang ada hanya surat menyurat. Seromantis itukah kau bersama Ibu saling memberi kabar lewat surat. Terkadang pula saling bertukar foto, hanya bisa mengirim doa-doa panjang agar kau kembali tidak hanya baju saja, tapi kami bisa melihat senyummu.

Ayah,
Mungkin Ibu merindukan memasakkan makanan kesukaanmu ketika kalian berjauhan. Karena yang kami tahu kau makan dengan ransum dan terkadang dapat makanan dari warga. Tak jarang banyak pula yang sakit, malaria, karena di luar Jawa banyak penyakit itu. Akupun rindu, rindu ketika kamu mendongeng ketika aku hendak tidur, atau aku menikmati kopi satu cangkir bersamamu dan kita nonton tv bersama hingga larut. Itu yang dulu selalu aku rindukan ketika aku jauh, bahkan kini setelah aku beranjak dewasa.

Janjiku kelak, aku ingin lelaki di sampingku yang sama sepertimu, tidak menggantikanmu tetapi menjadi lelaki yang ke-3 yang aku cintai setelah Ayah dan adik.  Aku akan mencari dia, pendamping yang aku semogakan pun kau semogakan. Lelaki sepertimu yang mampu berdiri di garis depan bersama ribuan pasukan langit pembela negara. Ya, satu diantara seribu itu adalah kamu, Ayah. Dan aku anakmu, bangga.

Ketjup dan peluk jauh untukmu, Ayah.

#30harimenulissuratcinta
#hari30

Minggu, 28 Februari 2016

>> Kang Pos.. kring kring pos

Salam kenal kakak yang suka Kopi dan suka rindu .. Mungkin.. Karena keduanya sama-sama membuat candu.
Sudah terusirkah dari kalijodo, kak? Hehe.. Kalau tak dari kalijodo mungkin kita berjodoh hehe karena kakak nganterin surat-suratku.

Serius deh ya, terimakasih untuk 30 harinya plus besok, telah mengantar semua suratku walau tak penuh 30 surat karena kesibukan. Dan terimakasih sudah bersabar dan berbaik hati saat aku curhati kalau tak berkirim surat, karena jatuh cinta tak bisa dipaksa. Dan bersabar hati ketika akunku salah ketik dan tak ter-mention.

Dulu waktu kecil hobi bersurat dengan kawan dan dengan ayah yang memang tinggal jauh. Senang kalau ada tukang pos bawa motor warna orange cetar di depan rumah dan membunyikan klakson. Kini jaman sudah berganti dengan istilah high tech. Suratpun bisa lewat e-mail atau direct message. Senang bisa gabung 30 hari menulis surat cinta tahun ini, bisa ter-mention itu suatu yang "wow" sama ketika kedatangan kang pos yang bunyikan klakson motornya depan rumah.

Terimakasih atas semua surat yang tersampaikan (plus 1 surat esok hari). Kang pos kring kring... Tahun depan jumpa lagi dan semoga kalijodo akan menjadi asri (lhhaah).

Kang pos, bila kopi dan rindu candu maka semua tulisanku juga candu... Semoga event ini akan menjadi batu buat rajin menulis alias konsistensi.
Ketjup, peyuk, hug kenceng kang pos... Terimakasih atas waktu dan semua tweetmu yang bikin aku kecanduan.

Teruntuk @anakkopi
Di 30 hari menulis surat cinta

Sabtu, 27 Februari 2016

>> Sederhana Saja

Sederhana saja, apa yang aku ingat ketika ada kata "ibu" ??
Dia malaikat tanpa sayap, doanya tak pernah putus, sekalipun kita belum buat dia bahagia.

Ibu, sosok yang bisa jadi apa saja, dokter, tukang masak, tukang pijet, penata gaya, designer, penata rambut, ibu juga seorang guru, yang tiap malam mengajari Mengerjakan PR dan dengan senang hati mengerjakan PR ketrampilan.

Ibu, Tuhan mungkin lupa menciptakan sayap untukmu, tapi aku tahu kenapa Tuhan melupakan tentang sayap itu, agar kita bisa memelukmu. Ayah, aku dan juga adik, kita bisa memelukmu dan kamu tidak terbang pergi kemana-mana.

Ibu, sederhana saja, citaku kelak membuat senyuman di bibirmu, dan buncah debar bahagia di dadamu. Doaku agar Tuhan mau memberimu sehat dan senyum tiada henti.

Mom checkings the door, perhaps there"s the prince looking for her doughter..
Yups maybe ibu akan melakukannya... Sederhana saja, doanya agar aku putrinya mendapat pangeran yang mampu menopang kepala putrinya ini dan membagi semua sedih dan isi kepala. Mampu menjadi sepertinya, manusia yang tak pernah tahu kalau ada sayap di punggungnya, dan malaikat bumi utusan Tuhan tanpa Tuhan ciptakan sayap untuknya.

Terimakasih Ibu untuk semua keluhku  yang kau simpan, rasa sakitku yang kau tampung, ayah berutung memilikimu dan kebanggaan  anak-anakmu

#30harimenulissuratcinta

Jumat, 26 Februari 2016

>> Kamu Si Teman Hidupku Kelak

Kamu, iya kamu, siapapun kamu kelak kamu pasti telah lebih dulu menjabat tangan ayahku di depan ribuan pasukan langit dan di depan penghulu (so pasti), merapal mantra, perjanjian berat yang tertuang dalam Al Quran Karim.

Kamu, nanti, pertama kali pasti kaget dengan kelakuanku, iya, kelakuan yang mungkin seperti anak kecil. Aku yang suka ekspresif dengan semua perasaan yang aku rasa, heboh sendiri sekalipun susah, sedih, galau, kecewa.

Aku, seorang yang gelian, jadi mungkin ketika kamu menyentuhku untuk sekedar menyapa atau bertanya, aku sudah merasa "Iiihh". Kamu pasti akan menggodaku seperti teman-teman yang menggodaku untuk sekedar memegang tanganku.
Aku suka makan es krim kalau sedih, kamu bolehlah kelak membelikanku es krim tapi jangan buat aku sedih, jangan buat aku menangis. Aku mau es krim dari kamu sebagai hadiah kalau kita sedang beromantis ria. Duduklah bersamaku kita nikmati lelehan es krim bersama, kita nyatakan pada dunia, kita bahagia, bukan sedang sedih.
Kamu, kamu juga harus tahu aku itu suka bicara, tapi kalau sudah nempel bantal langsunglah tidur, pelor kata orang mah gitu. Maka nanti sebelum kita beranjak ke dunia mimpi, aku mau kita berbagi cerita, cerita yang telah kita lewati selama sehari di luar rumah atau saat kita tak bersama. Kita bicarakan mimpi dan harapan kita pula. Hiburlah aku ketika dunia tak lagi berpihak padaku, dan pujilah aku ketika aku menunjukkan sedikit mimpi yang terwujud nyata, maka kulakukan pula itu padamu.

Kamu si teman hidupku kelak, apa kamu tahu? aku punya sakit maagh, punya sakit radang tenggorokan, dan aku juga punya virus tipes yang mengendap hingga sewaktu-waktu bisa kambuh. Maka masihkah kamu mau selalu menjagaku, selalu mengingatkan agar tak jajan sembarangan. Ingatkan aku pula untuk selalu olahraga dan tidak terlalu lelah fisik dan fikirku. Maka akan kujaga pula kamu, seperti Ibumu menjagamu, begitupun aku.
Aku suka film romantis, kalau kamu suka action aku tetap menemani, kita berbagi saja, kadang waktu, kita bisa duduk manis menikmati cerita-cerita roman picisan atau di waktu lain kita bisa tegang dan berteriak bersama ketika nonton action atau fantasy. Tapi berjanjilah jangan mengajak nonton film horor, karena aku penakut, atau bisa saja kita nonton film horor tapi sembunyikan aku di balik punggungmu atau peluk aku saja.
Aku juga paling takut menyeberang jalan ketika ada tikungan atau simpang jalan, maka gandeng saja tanganku, jadilah pandu, bersikaplah sedikit angkuh karena itu adalah bahasa bahwa kamu ingin melindungiku.
Aku suka fotografi, dan aku tahu pasti kamu akan sesekali bilang "coba foto aku" maka akan aku katakan "kamu adalah object tak terjamah oleh lensa kameraku, tapi kamu adalah object terindah di lensa mataku,".

Kamu, teman hidupku kelak, aku akan katakan kepadamu bahwa aku bukan tempat singgah atau pelabuhan bila tak hendak menjadikanku satu-satunya tujuan (rumah) bagimu. Maka doaku "Ya Rabb, beri aku cinta yang pada cinta tersebut selalu ada cintaMU di dalamnya".

Untuk kamu si teman hidupku kelak

#30harimenulissuratcinta


Kamis, 25 Februari 2016

>> Tuan Timur Tengah

To           : Mr.FAJ(R)

Subject  : Tuan Timur Tengah


Ai, Mr.FAJ(R),
Ini surat ke berapa kali aku gak ingat, tapi kamu sudah membaca hampir semua isi blog-ku. Kamu bilang, "sudah aku baca dan ada beberapa yang aku ulang beberapa kali untuk dibaca". Semenarik itukah? Yang mana? Aku jadi penasaran.

Lalu kenapa ketika aku tanya, "kenapa tidak balas suratku?" Jawabmu hanya ringan, balas lewat apa? Twitter? Hiks hiks, Rasanya kalah kalau ngobrol sama kamu. "Balas via e-mail atau tulis tangan kan bisa", jawabmu hanya "oh gitu ya", ketika aku merengek ingin sebuah balasan surat.

Aaaah, rasanya percuma merayu, tetiba bukan kamu yang terkejut tapi aku sendiri yang terkejut, tetiba kamu ingin ke rumah, ingin tahu semua hal tentangku dan ingin kenal semua temanku. Aaaah lalu apa kamu memberi kesempatan aku untuk tahu tentangmu? Rasanya aku baru tahu sedikit saja, aku lebih suka tahu ada darah Jawa Tengah mengalir di kamu. Heh, Jawa Tengah itu aku, mmm kemarin kata teman sewaktu kenal kamu bilang dengan nada bercanda, "mmm sepertinya yang Jawa Tengah kamu dan yang Jawa Timur mba nda" aaakkk padahal kamu Timur Tengah, heh Tuan Timur Tengah, tetap saja begitu, kalau marah tetaplah tersenyum, karena mengerikan melihat kamu marah. 

Kejutan apa lagi yang mau kamu berikan? Bulan lalu di tengah malam kamu kasih aku cerita menguras emosi, tetiba ada cerita minta maaf dan minta kesempatan, tetiba kemarin kamu kasih aku kabar ingin ke kos, tetiba kamu kasih kabar ingin ke rumah, hari ini tetiba pagi buta kamu kasih kabar ibumu ingin ke rumah. Lalu apa tetiba suatu saat kamu buat aku berdiri kaku karena bawa penghulu di depan pintu rumah. Owh Ya Rabb, Tuan Timur Tengah ini tidak bisa ditebak jalan fikirannya.

Kamu yang selalu membuat aku terkejut, sekalipun itu kata yang sadis "Tak buat nangis lagi entar" naah kan kalimat macam apa itu, jangan bicara yang aneh, duduk saja lalu ceritakan apa yang harus kamu ceritakan, biar aku tahu semua.

Tuan Timur Tengah, merayulah pada Tuhan biar aku jatuh cinta setiap hari, kalau tidak ya bersiaplah.... #entahbersiapuntukapa ^^?


#30HariMenulisSuratCinta
#day26

Rabu, 24 Februari 2016

>> Berkawanlah tanpa Melawan

Kenapa Tuhan ciptain huruf K dan L berdekatan itu karena kelak Kawan bisa jadi Lawan atau Lawan bisa jadi Kawan.
Kenapa juga huruf B dan C berdekatan karena Benci pun bisa jadi Cinta dan rasa Cinta pun bisa menjadi Benci.
Tuhan punya caranya sendiri membolak balik hati manusia. Tuhan pula Maha Adil menciptakan rasa seimbang.

Kawan, jika ada luka maka bicarakan saja, jangan bicarakan di belakang, biar aku tak lelah dan berubah. Tentunya kamu ingin aku menjadi lebih baik, maka bicarakan disini, duduklah disampingku. Jika aku menangis maka Usap airmata ini, sebagai kawan dan jika aku tercabik emosi maka tolong jangan melawanku, jangan jadikan aku lawan. Duduklah disini kita sama tinggi sama rendah, bukan untuk merendah dan bukan untuk menunjukkan tingginya ego kita.

Kawan, kita saling melengkapi, Kita berkawan, bersahabat bukan untuk memaki atau mencaci, menjatuhkan satu sama lain. Kita berdiri bersama untuk Bisa saling bercengkrama saling memiliki, bisa gila bersama dalam ucap dan tingkah kita.

Kawan, jika kamu lelah denganku, maka bicaralah, aku dengar walau sakit, walau pedih, tak apa, asal nanti kita bisa tertawa bersama, kawan jangan takut menghakimiku, tapi dengan cara benar, dengan cara layaknya seorang sahabat.

Kawan, jika memang kita sahabat baik, maka jadilah bintang, sedangkan aku malam, kita bersama selalu walau kadang manusia tak melihat kita bersama selalu.

Kawan, tatap aku, jangan jadi Lawan, jadilah Kawan saja, jangan ubah cinta jadi benci. Biar saja sebelum L(awan) pasti selalu menjadi K(awan) dan setelah B(enci) pasti kelak ada C(inta). Berlapang dadalah, ketika aku, kawanmu, tak mampu menundukkan dunia untuk membelamu tapi kamu pasti tahu aku akan berusaha semampuku, hingga habis usia untuk selalu membelamu.

Kepada sahabat
#30harimenulissuratcinta