Tampilkan postingan dengan label Short STORY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Short STORY. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Januari 2020

Tepat 10 Tahun



Aku berdiri di simpang tiga, tak seorang pun kulihat lalu lalang. Iya, jam sudah menunjuk di angka satu. Aku terbangun, kudapati selembar kertas dengan tulisan Ayahku. Entah mengapa air mataku berlinang, membacanya serasa seperti mengucapkan perpisahan.

"Ayaaaah," Aku berlari keluar kamar, mematung di pintu depan.
"Le, mau kemana?" Nenekku berteriak memanggil.*
"Sudah biarkan saja," Kudengar Kakek lembut berucap namun aku tetap lari ke persimpangan jalan.

Aku menangis. Tak kudapati sosok Ayahku. Masa depanku seolah suram, mendadak aku yatim piatu.

"Ayahmu akan pulang, tunggu saja!" Kakek mengelus punggungku.
"Tidurlah lagi, besok kita jualan pagi-pagi." Nenek memberi perintah sambil terus menyiapkan isian nasi bakar dan arem-arem.
Kakek mengangguk, mereka tidak membiarkan aku menangis terlalu lama. Namun sejak malam di mana Ayah pergi, aku tidak lagi tidur nyenyak.

Pagi pertama sejak Ayah pergi, aku melihat wajah mulus adikku, usianya tiga tahun, terpaut empat tahun. Ibuku pergi, setelah melahirkan adik lelakiku--pergi ke surga. Saat itu masih kuingat, ada genangan darah di lantai kamar. Aku belum paham yang terjadi tetapi ramai isak tangis membuatku menangis pula. Maka dengan raungan tangis orang-orang, aku tak melihat lagi sosok Ibu. Kata semua orang, dia sudah di langit, pergi ke surga, bertemu Pencipta. Setelah kulihat genangan darah dan isak tangis yang mencekam itu aku mulai merasa takut dengan darah. Pernah aku jatuh, rasanya jantungku berdetak hebat, tubuhku menggigil. Trauma. Itu kata dokter puskesmas yang memeriksaku.

Hari-hariku membantu Kakek dan Nenek, berjualan keliling perumahan dan di perkampungan. Aku menjaga adikku juga. Hidup kami berat, Kakek menggarap sawah orang. Upahnya tak pernah sama, tak tentu pula kapan masuk kantong. Tapi aku salut dengan mereka, bekerja keras demi aku memakai seragam dan menjinjing buku ke sekolah.

…

Tepat sepuluh tahun, aku membaca lagi surat dari ayah "Besok Ayah akan pulang". Aku berdiri di persimpangan jalan yang sama, tidak pernah kudapati beliau kembali ke rumah kami. Kusimpan selalu lembar kertas itu. Kini aku yang akan pergi meraih cita, beasiswa perguruan tinggi sudah di tangan. Namun mimpiku melihat Ayah pulang belum berakhir.

*Le; panggilan anak lelaki dalam Bahasa Jawa
9 Januari 2020

Minggu, 15 Mei 2016

>> Bapak Wali



“Kamu hamil?”
Rima menunduk, menangis, dia merasa sangat ketakutan, baru kali itu dia merasa sangat takut setelah beberapa waktu lalu dia juga mengalami ketakutan karena telah tertanam janin di rahimnya.
“Siapa yang melakukan?”
Rima diam saja.
“Aku cari Bapak karena ini, aku mau Bapak yang menikahkan Rima dengan lelaki itu, bukan wali hakim,”
“Memangnya lelaki bodoh itu mau bertanggungjawab?”
“Mau, dia baik,”
“Baik kok menghamili anak orang? Baik itu rajin ke masjid bukan menghamili anak orang,”
“Bapak juga tidak baik, tidak pernah ke masjid,”
“Kamu malu? Kalau malu ngapain cari Bapakmu ini kesini?”
“Rima nggak malu, Rima mau Bapak jadi wali Rima,”
“Ibumu yang jalang itu kemana?”
“Tidak tahu,”
“Jadi Ibumu tidak tahu kalau anaknya hamil?”
Rima menggeleng, matanya berani menatap.
Bapakmu ini Cuma kondektur bus mini, gelantungan tiap hari campur debu Jakarta,”
“Rima tidak malu,”
“Kapan?” Bapak setengah baya itu mendongakkan kepala putrinya, “secepatnya, keburu perutmu besar kemana-mana,”
“Rima siap kapan saja, Rima juga malu kalau ketahuan,”
“Lelaki itu harus lulus sekolah, kamu juga, biar nggak sama kayak orangtuanya, punya kerjaan jelas,”
“Bapak nggak kangen sama Ibu?”
“Apa Ibumu kangen sama Bapakmu ini?”
“Ibu kemana?”
“Ibumu itu udah jadi perempuan nggak bener,”
“Bapak nggak boleh bilang gitu,”
Memandang miris ke putrinya.
“Sudah berapa bulan perutmu itu? Kalian tidak berusaha membunuhnya?”
Rima menggeleng.
“Rima mau anak ini, dosa kalau Rima bunuh bayi ini,”
“Dosa? Itu tahu dosa, pas bikin apa ingat dosa?”
Rima diam.
“Jangan jadi perempuan nggak bener, Bapakmu nggak pernah ngajari itu, mungkin Ibumu yang ngajari,”
“Bapak pergi waktu itu setelah Bapak pukul Ibu dan dua minggu setelahnya Ibu pergi, nenek sakit dan kakek yang cari uang, sekarang kakek ngayuh becak dan nenek masih jadi buruh cuci,”
“Uang yang bapak kirim?”
“Ada, buat bayar sekolah Rima dan buku Rima,”
“Baguslah, nggak dipake Ibumu, pelacur di depan suaminya, Bapakmu ini nggak ngejelekin Ibumu, tapi kenyataan, ditinggal kerja suami itu jaga diri dan kehormatan bukan tidur dengan lelaki lain. Bapakmu ini walau tidak sekolah tinggi tapi tahu aturan, Bapak kasih tahu kamu biar kamu bener,”
“Rima sayang sama Bapak, Rima mau Bapak jadi wali Rima, maaf Rima bikin malu Bapak, tapi Rima nggak pernah malu punya Bapak,”
Bapak dan anak itu saling berpelukan.

Rabu, 11 Mei 2016

>> Surga Yang Lain



“Ceraikan saya mas,”
“Tidak, aku masih sangat mencintaimu,”
“Apa kamu mampu? Apa itu bentuk cintamu?”
“In shaa Allah, asal kamu ikhlas,”
“Ikhlasku mungkin di mulut saja, wanita mana yang mampu berbagi cinta dan dunianya?”
“Maafkan aku, sayang,”
“Aku yang minta maaf,”
“Tapi aku mohonkan agar kamu menerimanya menjadi bagian dari dunia kita,”
“Aku bisa apa? Aku tak pernah meminta surga padamu, maka jangan beri aku neraka di dunia ini,”
“Astaghfirullah, aku tak pernah ingin neraka untukmu, aku justru inginkan kita bersama di surgaNya kelak,”
Qautsar menangis di pangkuan istrinya, Dewi pun tak kalah hebat menangis, mencoba mengikhlaskan suaminya yang ingin berbagi ranjang.
“Ini Delia,”
Qautsar benar-benar membawa perempuan lain yang ingin dia nikahi.
“Mas,” Dewi tersenyum getir.
“Dewi,”
“De - li – a,”
Dewi sedikit terkejut karena melihat Delia gagap berbicara dan dia memperagakan beberapa isyarat. Delia seorang tuna rungu, wajahnya cantik dan santun.
“Allahu Akbar, Cobaan apa lagi ini Rabbku”
Dewi membatin dan menangis dalam hati.
“Cinta apa yang kamu punya untuknya, mas?”
“Cinta yang utuh sama seperti yang kupunya untukmu,”
“Kamu menemukan bidadari surgamu, untuk apa aku ada?”
“Subhannallah, bidadariku kamu, dia malaikat, bolehkah aku punya keduanya di sisiku?”
Dewi memeluk suaminya yang duduk di bawahnya. Air matanya berurai.
“Mungkin ini surga yang lain,”
“Kamu yang membuatnya menjadi surga atau neraka,”
“Pergilah, bawa malaikatmu itu, ikhlasku bukan karena semua kekurangannya tetapi karena semua kurangku ada pada lebihnya,”
“Surga yang lain itu nyata,”
“Allahu Akbar,” Dewi menangis semakin erat peluknya.



#30HariBerCeritaPinta
CPPS ini ceritanya alias cerita pendek, pendek sekali menuju 8 Juni 2016, semua bercerita pinta atau ingin ^_^

Selasa, 10 Mei 2016

>> Astaghfirullahal Adzim



 

"Apa aku terlambat atas rasaku ini?"
"Rasa seperti apa yang kamu punya?"
 "Rasa yang lebih dari sekedar sahabat, aku yang tak hanya ingin mendengar semua keluh kisahmu, paper kuliah, kuiz dadakan,"
 "Maaf, Kee,"
 Nada menunduk sambil meminta maaf kepada sahabatnya Keenan. Sejak SMA mereka selalu bersama.
"Istighfar, Kee,"
 Ustadz yang biasa menjadi imam masjid komplek perumahan Keenan mencecar. Keenan harus bertobat.
"Saya jatuh cinta pada dia, Pak,"
 "Maka nikahi atau tinggalkan, kamu harus meninggalkannya karena dia sudah akan menjadi milik orang lain,"
"Saya bisa gila memikirkan dia akan menikah dengan orang lain, saya yakin dia pun punya rasa yang sama,"
"Jodoh itu sudah ada yang mengatur, maka dengan kegilaanmu ini beristighfarlah, perbanyak istighfar maka Allah akan melapangkan setiap kesusahanmu, memberi jalan keluar tiap masalahmu dan kamu akan mendapat rizki dari pintu yang tak terduga,"
"Saya menyesal baru bilang sekarang,"
"Jika dulu kamu katakan mungkin akan banyak jalan dosa terbuka, atau memang akan ada jalan halal terbuka. Kini kamu katakan pun pintu dosa dan halalmu tetap terbuka."
"Astaghfirullahal adziim,"
Keenan menunduk dalam, air matanya jatuh di sarungnya.
Maka dia pulang dan mulutnya tak berhenti merapal mantra ajaran ustadznya. Dia lebih dari sekedar galau.
"Berjanjilah untuk bahagia,"
"Janji, in shaa Allah," Keenan merapal janji di depan Nada.
"Aku senang kamu ikhlaskan aku,"
"Belum sepenuh hati, tapi kamu juga harus janji, janji untuk bahagia bersama pilihan itu," Keenan menunduk lemah.
"In shaa Allah,"
Keenan dan Nada berusaha ikhlas.
"Astaghfirullahal adziim,"
Keenan selalu istighfar dan sholat malam, Al Quran selalu dia baca karena kegundahan hatinya. Dia menangis tiap mengingat Nada.
Dalam suasana pernikahan. Sang pengantin wanita tak nampak begitu pula sang pengantin lelaki. Sudah di telpon beberapa kali tapi tidak ada jawaban.
“Nada mulai takut,”
Layar HP-nya tak hentinya memanggil nomor telpon calon suaminya. Ibunya ikut gusar.
“Ya Allah, kucinta Kau lebih dari apapun, cintakanlah pada makhluk yang mencintaiMu, Engkau Maha membolak-balik hati,”
“Sudah ada kabar, katanya rombongan lelaki kecelakaan.”
“Innalillahi wa innaillaihi rojiun,” serempak seluruh ruang menggema menyebut kalimat sakral itu.
Airmata Nada tak keluar sama sekali, hanya saja dadanya berdegup kencang.
“Pernikahannya?”
Nada tak bergeming di kamarnya.
“Abi, di luar sana ada lelaki yang mencintaiku, dia telah berjihad menuju kemari dan kami memang tidak berjodoh lama, tetapi ada lelaki di luar sana, dia sahabat Nada sejak lama, dia lelaki yang begitu ikhlas ketika cinta yang dia damba menjadi milik orang lain dan dia mendoakan segala kebaikan, bolehkah?”
Nada belum selesai bicara, “Siapa? Kenapa tak mau bertemu Abi sejak lama?”
“Keenan,”
Nada sesenggukan melafaz nama Keenan di depan Abi.
“Dia suka denganmu?”
“Cintanya lebih besar kepada Allah,”
“Dia bisa melindungimu?”
“Dia membuktikannya sejak kami SMA hingga kini, tak sehelai rambutku dia sentuh,”
“Tapi dia membuatmu menangis dengan tidak datang ke hadapan Abi,”
“Dia membuat Nada menangis karena dia belum hafal Ar Rahman janji maharnya kepada Nada, tapi Abi sudah menerima Mas Ilham terlebih dulu sebagai calon suami Nada,”
“Lelaki macam apa itu?”
“Bolehkah Nada menerimanya?”
“Abi terima tapi harus hari juga,”
Keenan digiring menuju sebuah bilik dan berbicara dengan Abi Nada.
“Astaghfirullah, inikah satu rizki dari pintu tak terduga? Pak Hasan, sebelumnya saya berduka cita dan untuk permintaan ini, saya  bisa apa? Saya fakir ilmu dan harta, apa yang bisa saya jadikan mahar untuk Nada,”
“Hafalan Ar Rahman, kamu sudah hafal?”
“In shaa Allah,”
Inilah kekuatan doa, istighfar Keenan memang mendatangkan rizki dari pintu tak terduga. Bukankah jodoh merupakan rizki juga.




#30HariBerCeritaPinta
CPPS ini ceritanya alias cerita pendek, pendek sekali menuju 8 Juni 2016, semua bercerita pinta atau ingin ^_^


    

Selasa, 22 September 2015

>> Melody Cicak



MELODY CICAK
“Yeahhh..., asli gila, bisa mati berdiri Bapakku kalau sampai ketangkap polisi-polisi itu,” aku tertawa bersama teman-teman kembali mengatur nafas yang tersengal-sengal setelah berlari menghindari kejaran polisi.
“Tawuran yang dahsyat,”
“Iyo, Mas.” Aku memandang kawan sepermainanku sekaligus senior di sekolahku.
“Ayo balik ora usah difikir,”1
Semua pulang, jantungku masih berdegub keras, aku berfikir bagaimana kalau benar-benar tertangkap polisi. Membayangkan wajah Bapak yang akan memaki aku dan pasti langsung menghapusku dari daftar keluarganya bahkan dari daftar warisannya. Deuhhh bisa apa aku tanpa warisan Bapak walaupun aku tahu Bapak tidak punya harta yang melimpah. Dan wajah Ibu, deuuhh perempuan paling lembut yang pernah berada di sisiku ya hanya Ibu. Walaupun ada Asti yang cantik, putih dan ramah. Ada Gusti yang punya mata indah karena dia dari Bali. Ada banyak perempuan yang mengisi hariku tapi Ibu adalah yang paling lembut dan memaklumi segala tingkah polahku.
“Assalamualaikum,”
“Wa’alaikumsalam,”
“Bu, kok sepi?”
“Apa ndak kayak biasanya, Le?”2
“Iyo yo, Bu.” Aku nyengir kuda di depan wajah Ibu.
“Ganti baju sana! Bau, jangan lupa cuci kaki dan tangannya lalu makan, Ibu masak makanan kesukaanmu,”
“Iya, Bu? Wah semangat aku,”
Aku bersiul-siul di kamar mengganti seragam sekolahku dan berlari kecil ke kamar mandi yang letaknya cuma sejengkal dari kamarku.
“Oalah wis joko kok kelakuane isih koyo cah cilik,”3
“Deuh Ibu, aku Furqon bukan Joko.” Dengan cuek aku membalas kalimat Ibu.
“Ya wis cepet keburu dingin makananmu,”
“Inggih Ibu,”4
1 Ayo pulang tidak perlu difikir
2 Apa tidak seperti biasanya, Nak?
3 Oalah sudah perjaka kelakuannya masih seperti anak kecil
4 Iya, Bu
Aku melepas semua baju karena aku merasa gerah setelah proses lari-lari dan perang ala anak sekolah yang lebih dikenal dengan tawuran, kuputuskan mandi saja sebelum menyantap masakan Ibu.
“Furqon, ada yang cari,”
“Siapa, Bu?” aku asyik menata rambutku yang basah, ingin hati berniat mencukur rambutku tapi bingung memilih model rambut. Sebelum benar-benar kandas rambutku maka aku ingin mencari model terbaik. Di depan kaca kamar mandi aku menata gaya rambut dengan bermacam versi. Belum ada yang cocok atau mungkin karena wajahku terlalu manis sehingga terlalu susah mencari model rambut.
“Le, keburu pergi ini tamunya!”
“Iya, sabar, orang sabar disayang pacar,” aku menyahut nakal.
Aku langsung keluar dan memandang tamuku, siapa gerangan bertamu di siang hari nan menyengat.
“Astaghfirullah, Le!” Ibu langsung teriak begitu aku keluar dari kamar mandi. Bingung apa yang terjadi, aku hanya bertampang polos tidak tahu menahu tapi tamu perempuan di samping Ibu langsung menunduk tak menatapku.
“Hyaa...,” aku tercengang begitu memandang tubuhku dari dada ke bawah. “Maaf, tidak sengaja, ini di luar kekuasaan, ini pengaruh alam,”
“Maaf, Nak.” Ibu berusaha menenangkan tamu untukku.
“Tidak apa, Bu. Mungkin Mas Furqon tidak sadar,” kudengar kata-kata maklum dari tamuku yang tidak lain adalah Aisyah, anak Pak RT dan juga teman mengaji di Mushola. Tapi sungguh kata-kata tidak apanya itu tidak akan pernah menghapus rasa maluku seumur hidup. Berdiri dengan tampang polos tanpa memakai celana untung saja aku tidak lupa memakai celana dalam kalau tidak bisa dipaksa kawin dengan Aisyah. Tapi kalaupun dipaksa ya  mau saja, justru tidak terpaksa tapi dengan senang dan ikhlas hati. Siapa tidak kenal Aisyah, sudah cantik, pintar, qiro’ah, apalagi yang kurang untuk jadi mantu ideal Bapak dan Ibu.
Aku keluar dengan menahan rasa malu, “Ada apa kok siang-siang kesini?”
“Anu Mas, nanti sore di minta mengajar anak di Langgar Pak Haji Said,”
“Kok aku? Tidak ada pilihan yang lebih baik?”
“Sudah tidak ada personil lagi, Mas. Mas juga baik ngajinya, tajwid dan hafalannya baik jadi menurut Haji Said Mas Furqon cocok mengajar di tempatnya,”
“Wah, bagaimana, ya?”
“Terima saja, hari ini saja tapi kalau cocok bisa diteruskan,”
“Ya sudah nanti aku yang mengisi,”
“Terimakasih, Mas. Aisyah pulang dulu, maaf mengganggu,”
“Deuuhh aku yang minta maaf sudah kasih Dek Aisyah tontonan porno di siang hari,” aku menggaruk kepala sambil senyum menahan malu menunduk dalam.
Ya sejak itu, setiap bertemu dengan Aisyah aku merasa sangat malu. Dan hari itu pula aku ingat Bapak teriak-teriak karena tahu aku ikut tawuran sekolah.
Tapi Alhamdulillah rencana dan bayangan dihapus dari daftar keluarga dan warisan tidak terjadi. Aku masih bisa bermimpi mendapat sepeda kumbang dan motor BMW alias bebek merah warnanya tahun 70an milik Bapak.
Aku kini berdiri di depan ruang UGD sebuah rumah sakit di salah satu propinsi di Jawa Timur. Jantungku berdegub sama seperti hari itu, bedanya adalah penyebabnya.
Tidak ada suster atau dokter keluar dari ruang itu untuk memberikan kabar atau paling tidak bisa donk kirim pesan singkat, sesingkat-singkatnya agar sedikit berkurang rasa tak karuan di dada.
Aku duduk di kursi tunggu depan pintu besar dan lebar bertuliskan UGD 24 Jam. Lemas seluruh sendiku, mukaku pucat dan tubuh gemetar tapi ini mungkin juga agak berlebihan karena memang dari pagi belum terisi sebutir nasipun perut ini.
Sebelum sekarang berdiri disini, akhir kisahku adalah di pesantren, ketika bapak dan Ibu benar-benar mengirimku ke pesantren bukan ke SMA anak-anak normal. Cita-cita yang aku rajut tiap malam pupus sudah begitu jejak langkahku menapaki dunia pesantren.
Di kampung setiap kali libur, semua jadi sedikit hormat dan membanggakan aku yang anak pesantren.
“Deuh ini dia anak kebanggaan, calon ustadz masa depan,”
Aku hanya tersipu diam, tak tahu bagaimana menanggapi omongan para tetangga. Mereka tidak tahu betapa hidup di pesantren adalah lebih kejam dari di penjara bagi anak-anak yang suka dunia kebebasan.
Berhubung orangtua tidak terlalu kaya tapi miskin juga tidak jadi hanya mampu memasukkan aku ke pesantren yang biasa saja.
Hari pertama di pesantren, harus bangun jam 3 kurang, aduh padahal baru tidur jam 12 malam. Ini Pak Kyai memang agak ekstrim, tidak memahami anak yang baru bermetamorfosis dari kurang baik jadi ke arah sedikit baik. Akhirnya hari itu jadi korban penyiraman air satu ember akibat sehabis subuh tidur lagi. Terpaksa menjemur kasur dan merapikan kamar serta buku yang sebagian total basah.
Atau kisah lainku yang ikut-ikutan mengintip para santri perempuan yang sedang mengaji, alhasil tidak hanya disuruh upacara tiap pagi tapi membersihkan seluruh pesantren tiap hari selama sebulan.
Asli di pesantren tidak ada enaknya, apalagi makanan ala penjara cuma tempe goreng dan sayur ala kadarnya, tukang masak di pesantren suka asal kasih bumbu. Kadang tempe goreng manis, sayurnya kelewat pedas. Totalnya berapa kali pingsan karena menahan lapar, tidak sanggup makan dengan rasa yang beraneka ragam. Jadi ketika ada libur dan pulang menikmati masakan Ibu, betapa aku terharu di depan makanan yang dimasak Ibu. Ibu sendiri heran melihat tingkahku tapi kelamaan beliau paham. Ketika pulang dari masa liburan aku rela membawa berkarung-karung makanan yang bisa awet berapa lama daripada harus makan makanan tukang sayur.
Walaupun di pesantren aku tak kehilangan akal memakai jurus mautku merayu gadis-gadis apalagi di pesantren gadisnya cantik-cantik. Satu hal yang tidak membuatku menyesal masuk pesantren.
Neina adalah satu dari ribuan santriwati yang mampu membuatku luluh. Bibirnya tipis dan warnanya merah muda selaras dengan kulitnya yang putih bersih. Seni grafiti arabnya sangat luar biasa indah, maklum darah seniman didapat dari sang ayah yang pelukis di Bali.
Santri perempuan dan lelaki dipisah dan kami jarang berinteraksi, kalau ada acara besar kita baru bisa bertemu. Dan pertemuan pertama memang berkesan maka siang malam, pagi sore hanya bisa membayangkan wajahnya. Terkadang bisa senyum dan tertawa sendiri sampai semua teman-teman menertawakanku dan memanggilku si gila. Mereka tidak tahu apa yang aku rasakan, jantungku berdegup dan wajahku merah tomat kalau aku mengingatnya.
Akhirnya aku beranikan diri menulis surat kepadanya, surat cinta bahasa mudahnya.
Aku berusaha menulis seromantis mungkin agar dia terkesan. Aku tulis di sela-sela kegiatan pesantren. Aku tahu akan bertemu dia lagi dan tidak lama lagi dari waktu aku menulis surat. Akan ada kegiatan pengajian besar mengundang ustadz ternama, itu kesempatanku meyampaikan surat yang berisi semua hal di hatiku dan fikirku.
Akhirnya hari yang ditunggu tiba, aku rela tobat kalau dia jadi milikku. Surat cinta di tangan telah rapi dan aku menyimpannya di saku celana belakang bersama saputangan yang wangi, berharap surat itu wangi walaupun ada di saku pantat tapi kuharap tak mengurangi jampi-jampi dalam surat itu.
Begitu tegang aku ketika acara mau di mulai, aku mencari tempat duduk yang strategis dan aku mengucap bismillah ribuan kali demi melancarkan aksiku.
Kami para santri mendengar tausiah seorang ustadz, ada ribuan kalimat indah ditwarkan sang ustdaz. Tiba-tiba sang ustdz memanggil sebuah nama yang tak asing di telingaku.
Seorang gadis maju ke depan dan tertunduk, jilbab panjangnya dan roknya membuatnya lebih anggun. Neina Al Hakim. Jantungku serasa mau copot.
“Ini, sepertinya ada seseorang yang mau menyampaikan banyak hal kepada Nak Neina,” sang ustadz menapaki jalan mencari celah mengungkap suatu hal.
“Neina kurang paham maksud Pak Ustadz,”
“Lihatlah,”
“Surat itu…, Duh Gusti…, kenapa bisa sampai ke tangan ustadz itu,” dalam hati aku cemas.
Aku merogoh saku di pantat dan nihil, tak kutemukan surat cintaku, hanya ada saputangan saja. Aku memutar otak, jumpalitan, mencari alasan dan mencari cara lari dari tempat itu. Tapi tidak bisa begitu suara keras seperti suara malaikat yang hendak mencabut nyawa.
“Saudara Furqon silahkan ke depan,”
Tiba-tiba aku merasa semua mata tertuju padaku, seperti senjata revolver yang hendak membunuhku. Kenapa hanya satu Furqon di pesantren itu kenapa tidak 100 Furqon seperti 150 Agus yang terdaftar di pesantren itu. Aku menyesal mencantumkan nama di atas lembar surat itu.
Dengan lemas dan menahan malu aku maju, berlahan aku mengayunkan langkahku, panggung itu serasa jauh dan aku harus lebih lama menahan mataku untuk tetap tertunduk. Kali ini jagoan kalah di depan cinta.
Dan puncaknya ketika aku harus membacakan surat yang aku tulis langsung kepada sang gadis. Semua santri tertawa dan sang ustadz hanya geleng-geleng, guru-guru sudah geram menahan amarah sekaligus menertawakanku. Aku mengutuk diriku sendiri dalam hati.
 Gadis itu hanya diam menahan malu dan berhasil membuat kata penolakan yang tertancap jelas di jidatku. Ternyata seorang ustadz sudah lebih dulu melamarnya. Duh Gusti malang benar nasibku sudah malu ditolak pula, patah hati jadi remuk dan luluh lantak.
Akhirnya Si Gila dengan Surat Cinta melekat di panggilanku. Tapi bukan tidak ada prestasi, kisah robotik penari menjadi juara mewakili sekolahku di kancah nasional lomba robotik. Aku yang merangkainya dan kelak aku ingin jadi seperti Habibie yang bisa menerbangkan pesawat dengan ilmunya.
*          *          *
“Pak Furqon, silahkan masuk,”
“Saya boleh masuk?”
“Iya, silahkan sudah ditunggu istrinya di dalam,”
Aku menurut saja mengikuti seorang suster cantik dengan tahi lalat kecil di atas bibirnya.
“Hai, bagaimana?”
“Sakitnya bukan main,”
“Sabar, ya.”
Aku tak berhenti mencium punggung tangan istriku. Genggaman erat tangannya menjadikan aku tahu satu hal, sakit yang dia rasakan tak hanya sakit biasa tapi memang benar-benar sakit. Zikir dan doa dari mulutku tak pernah hentinya.
Aku memandang wajah bidadariku dan menatap matanya tajam, ribuan doa tercurah untuknya. Aku tak lagi sanggup berfikir bagaimana kalau aku tak memilikinya.
Aku ingat bagaimana aku menemukannya di saat aku memang menginginkannya.
“Ssttt ikut kuliah anak FISIP, yuk!”
Ajak seorang kawan kos yang dulu memang mengincar gadis jurusan FISIP. Aku tidak menolak dan tidak pula mengiyakan, justru karena itu akhirnya aku mengamininya.
Duduk di kelas anak HUMAS dengan mata kuliah yang sangat asing dan kawan kelas yang asing pula.
“Hei mana kawan kamu?”
“Belum datang, otw katanya,”
Aku mulai tidak tenang karena tidak ada seorangpun yang aku kenal, tapi mataku tertuju pada satu titik cahaya, mukanya paling bening dan sorot matanya mirip lampu mercusuar di lautan.
Aku pasang aksi dan cari perhatian, kursinya tak jauh dari tempat aku duduk. Rusli masih menuggu kawannya dan Adi sudah asyik ngobrol dengan seorang gadis.
Keluar kelas dan dengan aksi singkat ku dapat alamat rumah dan no telfon seorang gadis bening bernama Wita.
“Mbak Shopi,”
“Iya, ini buku kemarin, terimakasih,” Aqila menyodorkan buku tebal ke arah seorang gadis dengan selendang menutup kepala.
Aku memandang gadis itu lekat, jantungku berdegub hebat.
“Teman-teman ini Mbak Shopia, anak BEM dan seniorku,”
Tangan itu sampai juga di depanku dan ahh ada tato di punggung tangannya. Tato itu membuatku menekuk muka. Aku leleh lemes patah hati sebelum hati itu nyambung kenceng rapet. Yang membuat tambah lemes badan adalah tato salibnya bukan hanya tato biasa, jadi kerudung yang menghias cantik menutup rambut hampir setengahnya bukan menunjukkan dia adalah muslim. Kalau jantungnya bisa berhenti saat itu mungkin langsung berhenti. Tato salib itu menggantung di sebuah untaian manik-manik, mungkin Rosario kalau dalam agamanya.
Aku berusaha melupakannya sejak pertemuan pertama dengan gadis bertato itu. Tapi kenapa jadi lebih penasaran dengan gadis manis itu.
Aku tersenyum pada istriku yang mencoba mengejan atas instruksi dokter di depan kami. Tangannya kuat menggenggam tanganku.
*          *          *
Aku memberanikan diri untuk menemui gadis manis itu, gedung FISIP, kali ini aku datang sendiri tanpa kawan-kawanku. Entah kenapa aku jadi serius tidak menunjukkan penampilanku yang slengekan kata orang Jawa.
“Tidak merasa aneh jalan denganku?”
“Kenapa? Tidak ada yang aneh,”
“Agamaku, Tuhanmu dan Tuhanku berbeda,”
“Tuhan kita satu, kita yang beda,” aku mencoba bijak, lebih tepatnya sok bijak. Entah kenapa selalu ingin merasa jadi dewasa di depan dia.
“Isa dalam agamamu Nabi dan dalam agamaku…,”
“Itu persoalan lama, bukankah kita hidup di negeri yang membesarkan ajaran toleransi?”
“Muhammad Nabi akhir jaman, dia yang membawa kebaikan di muka bumi ini,” bijak kata keluar dari mulut tipis Shopia.
Hatiku semakin luluh, betapa dia gadis yang mampu benar-benar menggerakkan hatiku. Sayang agamanya tak sama denganku. Hatiku harus menjauh walaupun aku sadar aku sedang jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Tak enak makan dan tak enak tidur. Tiba-tiba ada cicak jatuh dari langit-langit kamar setelah cicak itu bergulat dengan rekannya sesama cicak. Aku kaget dan langsung teriak, satu kosnya langsung berduyun-duyun masuk kamar bergerombol di pintu sampai pintu penuh ingin tahu ada apa gerangan dan aku hanya senyum kecut sambil menunjuk cicak yang sudah lari dan hanya meninggalkan ekornya yang kecil.
*          *          *
“Aaaaaaahhhhhhhhhhhhh… huh huh huh…,”
“Ayo terus,” aku mendadak sadar masih menunggui istriku melahirkan, istri yang paling kusayang sedang mengejan memberi ruang hidup untuk anak kami.
Airmataku berlinang melihat istriku, fikirku melayang ketika haru biru pinanganku diterima gadis yang kini menjadi istriku dan kami harus berjuang bersama ketika itu.
“Ayahku non muslim, Ibuku muslim, Ibu mengenal muslim dari sahabatnya. Akhirnya mereka berpisah dengan cara yang baik karena tidak sepaham, aku ikut keyakinan Ayahku walaupun dari kecil aku mengenal dua agama itu. bukankah dalam agamamu suami atau ayah adalah Imam? Maka Ayahkupun telah menjadi Imamku, sementara kerudungku adalah baktiku kepada Ibuku. Tato inipun bukan apa yang ada dalam fikirmu tapi ini adalah 33 buah tasbih, salib ini milik Ayahku. Namaku adalah Shopia Annisa, dari surat An-Nisa, Yaa Ayyuhannasuttaqurabbakummulladzi kholaqokumminnafsiwwakhidat….”
“Subhanallah,” dalam hati Furqon berucap, di hatinya mungkin tidak ada Allah tapi dalam tuturnya dan sikapnya ada jiwa dan hati muslimah sejati. Hafalan dan tajwidnya cantik dan indah.
Airmataku mengalir double ingat masa lalunya yang nakal dan masa sulit menahan hatinya dan sekarang berdiri disamping istriku yang sedang dalam hidup dan mati. Masih indah terngiang suara merdu lantunan surat An-Nisa.
*          *          *
Aku mantap meminang gadis yang sudah 2 bulan membuat hatiku kusut dan rambutku kusut, dan saat menikah semua mantan aku undang dan mengenalkan pada istriku, aku ingin dia tahu kalau dia adalah yang terbaik.
Aku juga menyanyi satu lagu dan yang lebih haru biru dia membaca surat Al Anbiya 89, akhirnya aku menikah juga dengan dia kekasih belahan jiwa, yang rela menjadi satu dalam kisahku dan mewarnai setengah dienku.
“Oek oek…”
“Selamat anak anda laki-laki,”
“Alhamdulillah, saya yang akan adzan di telinganya, Dok.”
“Silahkan,”
Aku bergetar, kini aku menjadi sosok dewasa untuk anakku, tak lagi nakal. Dia gagah sekali dan kelak harus lebih baik dari aku. Amin.
Aku haru melihat bayi merah di tanganku, tangis membuncah dan aku mendengar suara cicak dari dinding di belakang dokter lalu cicak itu melotot kepadaku dan hilang semua, gelap jadinya.
Dirasa ringan tangannya tanpa kehadiran sang bayi. Dan lalu semua putih, ada seorang perempuan dua di depanku mereka tersenyum.
“Bapak tidak apa-apa?”
“Iya, dimana ini? Anak saya, Dok?”
“Di ruang perawatan dengan istri anda. Tadi anda pingsan saat mendengar suara cicak.”
“Deuuh saya phobia sama cicak, Dok.”
“Owh…disamping itu, anda juga kelelahan dan sepertinya belum makan.”
“Iya, Dok.” Aku nyengir dan garuk-garuk kepala.
Setelah beberapa saat aku dirawat, aku menemui istri dan anakku. Betapa bahagia aku menatap kedua anugerahku di bumi Allah ini. Kucium tangan perempuan yang lemah terbaring tepat di punggung tangannya dengan tato salib kecil menjuntai butir tasbih 33 buah.
Tak lagi sepi hidupku, tak lagi bernoda hidupku. Bahkan dia yang rela memberi mahar terindah dengan keIslamannya.
1-30 Okt 2011, Bojonegoro