Jumat, 10 Januari 2020

Tepat 10 Tahun



Aku berdiri di simpang tiga, tak seorang pun kulihat lalu lalang. Iya, jam sudah menunjuk di angka satu. Aku terbangun, kudapati selembar kertas dengan tulisan Ayahku. Entah mengapa air mataku berlinang, membacanya serasa seperti mengucapkan perpisahan.

"Ayaaaah," Aku berlari keluar kamar, mematung di pintu depan.
"Le, mau kemana?" Nenekku berteriak memanggil.*
"Sudah biarkan saja," Kudengar Kakek lembut berucap namun aku tetap lari ke persimpangan jalan.

Aku menangis. Tak kudapati sosok Ayahku. Masa depanku seolah suram, mendadak aku yatim piatu.

"Ayahmu akan pulang, tunggu saja!" Kakek mengelus punggungku.
"Tidurlah lagi, besok kita jualan pagi-pagi." Nenek memberi perintah sambil terus menyiapkan isian nasi bakar dan arem-arem.
Kakek mengangguk, mereka tidak membiarkan aku menangis terlalu lama. Namun sejak malam di mana Ayah pergi, aku tidak lagi tidur nyenyak.

Pagi pertama sejak Ayah pergi, aku melihat wajah mulus adikku, usianya tiga tahun, terpaut empat tahun. Ibuku pergi, setelah melahirkan adik lelakiku--pergi ke surga. Saat itu masih kuingat, ada genangan darah di lantai kamar. Aku belum paham yang terjadi tetapi ramai isak tangis membuatku menangis pula. Maka dengan raungan tangis orang-orang, aku tak melihat lagi sosok Ibu. Kata semua orang, dia sudah di langit, pergi ke surga, bertemu Pencipta. Setelah kulihat genangan darah dan isak tangis yang mencekam itu aku mulai merasa takut dengan darah. Pernah aku jatuh, rasanya jantungku berdetak hebat, tubuhku menggigil. Trauma. Itu kata dokter puskesmas yang memeriksaku.

Hari-hariku membantu Kakek dan Nenek, berjualan keliling perumahan dan di perkampungan. Aku menjaga adikku juga. Hidup kami berat, Kakek menggarap sawah orang. Upahnya tak pernah sama, tak tentu pula kapan masuk kantong. Tapi aku salut dengan mereka, bekerja keras demi aku memakai seragam dan menjinjing buku ke sekolah.

…

Tepat sepuluh tahun, aku membaca lagi surat dari ayah "Besok Ayah akan pulang". Aku berdiri di persimpangan jalan yang sama, tidak pernah kudapati beliau kembali ke rumah kami. Kusimpan selalu lembar kertas itu. Kini aku yang akan pergi meraih cita, beasiswa perguruan tinggi sudah di tangan. Namun mimpiku melihat Ayah pulang belum berakhir.

*Le; panggilan anak lelaki dalam Bahasa Jawa
9 Januari 2020

Kamis, 07 Juni 2018

>> Selapanan : 35 hari



Kalau di Jawa masih pegang teguh adat jaman baheula alias jaman dahulu. Nah pada jaman dahulu kala.... #hehe kayak film kartun. Kalau orang habis lahiran tuh mesti buaaanyaaakk pantangannya, saya yg di wanti2 no pantangan, soale SC dan dokter ama suster ama bidan2 wis bilang jangan pantang apapun #biarortunyasadar #inibukanjamanold

Okeylah, no pantangan dalam makanan termasuk “masuk dingin keluar dingin masuk panas keluar panas” a.k.a dispenser ASI haha. Katanya jangan minum dingin2 ntar anaknya pilek #bah kalo udah wayahe pilek mah pilek aja yak ngapain nyalahin emaknya. Terus nih ruam susu, itu sih kalau hadirnya sekitar mulut dan anak gue si cimit Qiana ini bintik2 di sekitar jidat dan mata pelipis mosok ya sampe situ, kalau baca2 sih itu milia #janganrindubiarakuajanantikamugakkuat #tsaaahhh #mileadilaninimah. Okey serius itu milia bayi atau jerawat bayi nanti hilang sendiri, atau memang alergi tapi yah saya gak tahu alergi apa, katanya cuaca sih atau udara panas atau dingin. Kalau di jidat itu semacam keringet buntet  #bahasaJawa kalau bahasa benernya biang keringat #boookkPatilagihot.

Banyak pantangan yg saya sih gak ngelanggar Cuma gak lakuin aja #hihi. Yang dilakuin sih gak keluar rumah selama belum selapanan 35/40 hari setelah lahiran. Kalau secara Jawa pamali, kalau di logika kedokteran memang ada #sayapercayadokter. Kalau di logika memang gak boleh keluar2 dulu karena di luar banyak virus bakteri berkeliaran dan ini mengantisipasi buat anak yg imunnya msh lemah dan juga Ibu yang baru lahiran untuk tdk terkena penyakit. Nah keluar pertama ya pas Imunisasi dan kontrol Post Partum. Naik mobil kebetulan untuk menghindari  virus2 liar gak naik kendaraan umum. Nah bersyukurnya deh selapanan hanya cukur rambut, dan sunat si Bai.

Cerita selapanan, kata Jawa Salapanyaitu 35 hari atau 7 pasaran. Ini sih lebih ke syukuran karena si Bai udah sehat, selamat dan gak kurang apapun. Nah biasanya nih jatuhnya di hari dia lahir juga, misal lahir minggu legi naaahhh pas selapanan nanti juga minggu legi. Biasanya dibuat ganjil bancaannya, kalau kali ini kita hanya bubur merah putih dan beberapa nasi kotak untuk tetangga dekat saja. Si adek potong kuku sudah  sore sebelumnya soalnya mukanya kecakar cakar dan cukur rambut  pagi di hari 35 dan sore sunat. Biasanya ada berjanjen atau ngaji2 naaahhh berhubung pas puasa jadi deh gak bikin apa-apa karena udah jadi satu acara berjanjen di Aqiqah kemarin.

Selapanan kali ini masak sendiri, nasi kotak ayam goreng lalapan plus teman-temannya, bubur beras merah putih, kembang dan kunyit (beli di tukang kembang gitu pasti udah tahu si tukang kembang, beda2 soale kembang2nya), air, sabun, cukura+silet, tissue, pisang raja, ketupat dan lepet (ganjil), jajan pasar (yang enak-enak) #haha. Eh iya sajen ini istilahnya nanti akan dibawa si dukun bayi alias yang bantu selapanan. Nasi kotak dikirim ke tetangga buat buka kirimnya sore karena masaknya selesai sore #hehe

Sebelum mulai di doain dulu biar lancar dan beres dan ayu parasnya #tsaaahhh Aamiin (lihat sajennya, Jawa banged, kembang2an)

Hasil gundulnya si Bai #hiks nak nak... cakep amat jadinya #hoho

kerok bagian belakang

kerok bagian depan


Pas di cukur anteng banget ya iyalah lagi merem alias nglimpus tidur, untungnya tidur dia kalau gak waaaahhh bubar, petakilan ini, polah kayak mau karate. Menikmati sekali ini si bai.

Bismillah dibersihin dulu semua mua

Jreeeeenggggg jadilah, anak gadis Bia nangis kenceng tapi pinter cuma sebentar


Pas sunat nangis si Bai tapi nangisnya sekali kayak pas imunisasi itu terus diem deh, gak paham model sunatnya apa gimana gimana soalnya gak liatin, horor. Dan gak yang berdarah-darah gitu, biasa aja malah kuning karena pakai kunyit #haha

Intinya dari acara adat-adat Jawa yang banyak itu adalah mendoakan agar bayi dan ibu sehat, selamat dan selalu bahagia. Aamiin.

Dan hurrraaaiiii udah boleh main2 nih keluar kandang hahaaa... ajak Abi belanja belanji deh, tapi si Bai di rumah saja haha.

>> Aqiqah Lil Baby


Pas di hari ke 7 deh si Bai lahir, sesuai di agama bisa dilakukan aqiqah, nah aqiqah sendiri bisa dilakuin di hari ke 7,14,21 pokoknya kelipatannya (klo gak salah)eh iya kalau mampu pastinya kalau gak ya gapapa toh sampe tua juga bisa bahkan sampai ke kubur juga bisa. Alhamdulillah abis dapat rizki dan kemarin ini si Bai lahir tanpa biaya, paling bayar imunisasi doank (Alhamdulillah) jadi alokasi dana yang mikirnya SC bakalan mahal maka jadilah dana buat Aqiqah.


كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّيكُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تَذْ بَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى
“Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan (kambing) untuknya pada hari ke tujuh, dicukur dan diberi nama” [HR Abu Dawud, no. 2838, at-Tirmidzi no. 1522, Ibnu Majah no. 3165 dll.


Di dalam Islam, pelaksanaan aqiqah ini memiliki hukum yaitu sunnah mu’akkadah, yakni ibadah yang sangat dianjurkan dan pahalanya mendekati pahala ibadah wajib. Bagi orang yang menanggung nafkah hidup sang anak wajib sangat disarankan untuk melaksanakan aqiqah pada hari ketujuh. Namun, jika tidak mampu melaksankannya tidak ada dosa baginya.

Nah, itu penjelasan Islaminya. Oiya walau bayi lahir menghirup nafas beberapa saat saja lalu meninggal juga di sunnahkan Aqiqah tapi tidak untuk janin, yang mengalami keguguran #hiks. Oiya buat anak cowok cukup 2 kambing/domba dan anak cewek 1 saja cukup. Kemarin pesen kambing di Oom, tentunya yang sesuai ketentuan ya kambingnya.

Akhirnya terpilihlah tgl 1 Mei 2018 untuk Aqiqaah si Bai, plus kita kasih nama dan cukur rambut, ngundang anak yatim beberapa. Si bojo gak bisa balik ada restore di kantor dan akhirnya gak ada bojo. Semua masakan masak sendiri manggil tukang masak dan ada berjanjen alias ngaji tadarusan, doain bayi. Eh iya kenalin nama si Bai

MARITZA QIANA AISYAHFARA

“aku lahir seminggu lalu, sebelum aqiqah, aku kecil sekali kadang Bia manggil aku cimit (cilik amit: kecil amat) sebab lahirku hanya 2300gram dan aku punya panjang 47cm dan aku punya badan kieng a.k.a roso a.k.a kuat jadi mungkin Bia ini mantan preman (tsaahh) jadi aku lahirnya berotot, hobiku pip,poo dan miksu juga oek oek, onty, oom banyak yang bilang aku menik-menik karena bibirku imut #hihi semoga aku sehat selalu ya, doain aku dan Bia, Abi agar sehat selalu, aamiin.”

Acara sore itu, pengajian dan makan2 habis pengajian (kenapa milih buat acara syukuran sekalian aqiqah karena pas selapanan nanti pas puasa jadi pasti gak bisa makan2 kalau ngundang orang hehe). Pas prosesnya ada cukur rambut beberapa helai, dan kita muter, aku gendong Qiana dan si Uti bawa bedak sama gunting mangkok tempat rambut. Pas muter minta doa dan diolesi bedak tuh kepala si Qiana. Heuheu kasian cemong semua, padahal udah gak boleh pakai bedak kan yak, tapi bagaimana lagi, langsung dilap waktu itu. Yang cukur pak modin/ustadz. Terus di doain deh si Bai. Bagi-bagi rizki juga ke anak yatim. Acara sederhana saja gak ribet. Jadi hanya sebentar aja.
Pengajian Aqiqah Buibu

Pengajian Aqiqah Buibu (Alhamdulillah lumayan banyak)

tradisi muter salim dan dibedakin buibu sambil di doain (aamiin semuaaaa)

colek elus pake bedak

di elus dan diusap sambil di doain sebelum proses cukur si Bai

bisa di Zoom itu muka udah cemong penuh bedak (Ya Rabb semogalah tak apa2), cukur sedikit rambutnya yang kemudian ditimbang dan dinilai dengan harga perak lalu di sedekahkan ke anak yatim

selesai dan di doain pak kyai/modin

after tradisi muter bedak #hihi

Alhamdulillah beberapa keluarga datang bantu-bantu. Dan banyak kado yang diterima si Bai, bersyukurnya si Bai lahir di desa wkwkwkwkwk. Uups rumah kita desa di tengah kota, masih masuk kota tapi karena lingkungan masih sawah alhasil pada nyebut desa di tengah kota.

Alhamdulillah acaranya berjalan lancar dan ternyata ada banyak yang gak bisa kita bagi kotakannya karena niatnya memang sederhana dan gak bisa buat banyak deh. Maafkan deh mbah-mbah dan uti-uti, onty, oom semuaaa minta doanya saja ya. Terimakasih dari Abi, Bia dan Bai Qiana. ^_^